Viral diMedia Sosial Kue Klepon yang Disebut Tidak Islami

0
24
klepon
Viral diMedia Sosial Kue Klepon yang Disebut Tidak Islami

ceritapa.com, Dunia maya dibuat geger dengan kue tradisional yang disebut-sebut tidak islami. Ya, pasti kalian sudah tahu soal klepon tidak islami yang trending di media sosial. Beragam komentar dan penilaian pun mengaliri postingan yang mengaitkan kue tradisional khas Jawa tengah itu dengan nama agama.

Salah satu akun FaceBook yang membagikan foto tersebut adalah akun Erwin Rabbani II. Akun Erwin Rabbani II mengunggah foto tersebut pada tanggal 20 Juli 2020 sekitar pukul 20.31 WIB. Pada unggahannya akun Erwin Rabbani II juga menambahkan keterangan berupa narasi yang bersifat provokatif. Unggahannya itupu lantas membuat ramai dan rentan menyebabkan perpecahan karena menyangkut masalah agama.

Klepon merupakan kue tradisional berbentuk bulat dengan bahan dasar tepung ketan dan gula merah. Saat memakannya maka kita akan merasakan sensasi berbeda dari gula merah cair di dalamnya. Makanan yang termasuk jajanan pasar itu kini tengah menjadi trending topic di media sosial Facebook dan Twitter karena berbau unsur SARA.

Beberapa warga net membantah unggahan kue klepon tidak islami, karena kue itu menjadi salah satu kue favorit di Indonesia. Kelanjutan keviralan kue itu kini tidak berlanjut. Nyatanya sebuah makanan memang tidak bisa dikaitkan dengan unsure agama yang tidak jelas sumbernya.

Kehebohan ini juga ditanggapi oleh Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Din Syamsuddin. Melalu pesan singkat kepada BBC Indonesia, Din Syamsuddin mengatakan klaim klepon tidak Islami tersebut untuk tidak ditanggapi dan diabaikan saja.

Belum diketahui siapa yang pertama kali mengunggah foto tersebut. Foto itu viral setelah diunggah ulang oleh beberapa akun media sosial yang memiliki jumlah pengikut banyak, baik di Twitter atau Facebook. Komentar-komentar yang muncul terkait klepon menjadi olok-olokan atau lelucon soal klaim ‘makanan non-Islami’ tersebut.

Unggahan klepon yang menjadi viral menunjukkan bahwa isu-isu terkait suku, agama, ras dan antargolongan (SARA) masih mudah menyentil emosi orang dan dapat digunakan untuk mengedepankan sebuah agenda tertentu, demikian menurut Aribowo Sasmito, salah satu pendiri dan ketua komite pemeriksa fakta di Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here